Merawat Bumi, Merajut Iman: Konstruksi Ekoteologi Agama Buddha dalam Merespons Perubahan Iklim

Penulis

DOI:

https://doi.org/10.60046/jgsb.v4i2.351

Kata Kunci:

Agama Buddha, Ekoteologi, Perubahan Iklim, paṭiccasamuppāda, Etika Ekologis

Abstrak

Perubahan iklim merupakan krisis ekologis sekaligus persoalan etis dan spiritual yang menampilkan keterkaitan antara aktivitas manusia, pola konsumsi, ketimpangan, penderitaan, dan keberlangsungan kehidupan. Artikel ini mengonstruksi ekoteologi Agama Buddha melalui pembacaan tekstual dan kontekstual terhadap Sutta dalam Kanon Pāli, Sūtra Mahāyāna, formulasi etika Agama Buddha kontemporer, serta penelitian mengenai mindfulness dan perilaku ekologis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui kajian kepustakaan dan pengembangan model konseptual dengan analisis tekstual, konseptual, kontekstual, dan integratif. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekoteologi Agama Buddha dapat dibangun melalui integrasi paṭiccasamuppāda, anattā, mettā, karuṇā, ahiṃsā, sīla, appicchatā, santuṭṭhi, sati, dan paññā. Lima Latihan Sadar Penuh Ditempatkan sebagai aktualisasi pañcasīla kontemporer yang menghubungkan spiritualitas dengan penghormatan terhadap kehidupan, kecukupan, tanggung jawab, dialog, dan konsumsi sadar. Berdasarkan sintesis tekstual, normatif, dan empiris, artikel mengusulkan model Relational Compassionate Mindful Ecological Action (RCMEA) yang mencakup kesadaran relasional, pelemahan keterpusatan pada diri, kepedulian welas asih, orientasi kecukupan, agensi sadar, komitmen etis, dan tindakan ekologis kolektif. Ekoteologi Agama Buddha dengan demikian dikonstruksi sebagai praksis Dharma yang menghubungkan transformasi personal dengan tanggung jawab ekologis komunal, institusional, sosial, dan lintas agama.

Diterbitkan

2026-10-30