Membangun Karakter Anak melalui Program Be Happy in Dhamma Pembelajaran Dhamma yang Menyenangkan
DOI:
https://doi.org/10.60046/penamas.v4i2.325Keywords:
anak Buddhis, mindfulness, pembelajaran Dhamma, pembelajaran sosial-emosional, pendidikan karakterAbstract
Perkembangan teknologi digital menghadirkan tantangan baru dalam perkembangan sosial-emosional anak, termasuk kemampuan regulasi emosi, empati, dan perilaku prososial. Oleh karena itu, diperlukan pendidikan karakter yang berbasis nilai-nilai spiritual untuk mendukung perkembangan anak secara holistik. Artikel pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan program Be Happy in Dhamma 9 serta mengkaji bagaimana pembelajaran Dhamma yang menyenangkan dapat memperkuat karakter dan keterampilan sosial-emosional anak Buddhis. Kegiatan dilaksanakan di Vihara Buddha Sakyamuni, Denpasar, Bali, dengan melibatkan 88 anak dan remaja. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif dan experiential learning melalui diskusi interaktif, cerita Dhamma, latihan mindfulness, meditasi, permainan edukatif, aktivitas kelompok, dan refleksi diri. Program ini didasarkan pada asumsi bahwa pengalaman belajar langsung dapat mendukung internalisasi nilai-nilai moral dan keterampilan sosial-emosional. Evaluasi melalui observasi dan refleksi menunjukkan bahwa peserta terlibat aktif dalam kegiatan serta menunjukkan perkembangan kesadaran diri, pengendalian emosi, empati, kerja sama, dan perilaku prososial. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa integrasi nilai-nilai Buddhis, praktik mindfulness, dan pembelajaran sosial-emosional mampu menciptakan pengalaman belajar yang bermakna bagi penguatan karakter anak. Kegiatan ini berkontribusi pada pengembangan model pendidikan karakter berbasis komunitas Buddhis yang mengintegrasikan dimensi spiritual dan sosial-emosional secara holistik. Temuan ini menegaskan pentingnya pembelajaran Dhamma yang menyenangkan sebagai pendekatan efektif dalam membentuk generasi yang berkarakter, berempati, dan tangguh di era digital.


